![]() |
| Pic source: Pexel |
“Bang stop, bang!”
Bajaj tua yang bodynya kelihatan udah mau rontok berhenti persis di depan gerbang kampus STT Jakarta. Aku mendorong tubuh gendut Ophie ke luar dan turun. Rita mengeluarkan tiga ribu rupiah dari saku celana panjangya.“Nih bang,...”
“Lah kurang neng?!”
“Kok kurang? Tadi kan perjanjiannya tiga ribu, bang?!” sergahku yang udah ada di luar bajaj.
“Itu perjanjian sebelum terjadi kerugian, tuh ban kiri bajaj aye mbledos!” supir bajaj itu menunjuk ke ban kiri bajajnya yang emang udah mbledos. Spontan aku dan Rita memandang Ophie dengan tatapan menuduh. Dialah satu-satunya orang yang duduk di sebelah kiri dan memungkinkan terjadinya hal itu. Ophie bengong, bertanya-tanya dalam hatinya.
“Bang, dia yang tanggung jawab!” seruku sambil menunjuk Ophie yang masih terbengong-bengong. Aku dan Rita pun melenggang pergi. Tinggallah Ophie sendiri yang nggak lama kemudian mengeluarkan dompetnya, sial.
Kami bertiga sudah ada di ruang kelas kami. Aku duduk manis diantara Rita dan Ophie, tepatnya kami berada dideret kedua. Aku mengeluarkan ponselku, yang tiba-tiba berdering, dari dalam saku jeans belelku. Sayangnya belum sempat kutekan tombol answer sudah tertera 1 misscall di layar. Aku manyun, aku yakin ini pekerjaan orang iseng yang punya kelebihan pulsa untuk mms [miscall-miscall saja.red], tapi siapa? Sejenak aku asik memijit tombol-tombol ponselku, lalu mencibir. Gigi?! Aku sedikit jengkel waktu tahu cowok ambon itu adalah pelaku ketidakjelasan tersebut. Aku buru-buru menengok ke belakang, mencari-cari posisi cowok jangkung yang punya nama paten Sergio Soiosa itu. Begitu mataku menangkap sosok yang kumaksud, aku langsung berkacak pinggang. Si jangkung itu malah melambai-lambai kegirangan. Ini dia satu spesies langka dari ambon manise. Aku kembali duduk. Sekali lagi aku menyibukkan diri dengan ponselku.
Kebanyakan pulsa, mas? Bagi-bagi dong ke gw!
Add recipient: g19i (^,^)
Send ; OK.
Send ; OK.
Kunonaktivkan ponselku, lalu kumasukkan ke dalam tasku. Hari pertamaku kuliah sangat spesial bagiku, dan aku nggak akan repot-repot menyibukkan diri dengan ponsel tuaku itu.
Mata kuliah pertama sudah dimulai, aku mencoba menikmati suasana belajar di semester ini. Hal yang lumrah, hari pertama akan menjadi hari yang penuh semangat buatku.
Eh iya, sampe’ lupa... Haluw, aku Fillia. Nama yang keren kan, yup! Aku bangga dengan namaku, sayangnya banyak orang yang lebih senang memanggilku Upil [menjijikkan bukan?] Hari ini adalah hari pertamaku memasuki kuliah semester 5 di kampus gumul dan juang, STT Jakarta.
Aku mengkedip-kedipkan mataku mencoba mengusir kantuk yang mulai mewabah di kelas. Sejenak kutengok sekitar. Di sudut belakang, mahluk gendut bernama Julius sudah tertidur pulas. Di sampingnya mahluk jangkung bernama Jere asik mendengarkan lagu yang diputar dalam walkman ditangannya. Sedangkan si Yosafat yang biasa dipanggil Apat ini memanyunkan bibirnya tiga senti sambil memejamkan matanya. Hey... hey..., coba lihat si batak Andre membenamkan kepalanya dalam tas di mejanya. Hm, mereka semua jelas berbeda dengan mahluk-mahluk yang ada di barisan depan itu. Lihat saja Hans sang kepala suku yang berulang kali membenahi kacamata minusnya yang merosot saking seriusnya mendengarkan celoteh dosen. Juga Yanto, cowok blasteran cina jawa ini sampai nggak berkedip, loh. Bahkan si cewek modis, Theofany, yang terkenal galak itu juga nggak bergerak sewaktu gumpalan kertas kecil melayang ke mejanya. Aku yakin itu pasti dari salah satu penggemarnya di kelas ini dan sudah bisa dipastikan isi kertas itu pasti rayuan gombal. Untunglah Theofany merupakan salah satu anggota cewek yang kebal rayuan gombal, jadi tak seorang cowok gombal pun yang berhasil merayunya.
Sementara mahluk-mahluk lain yang duduk di barisan tengah, cuma melotot mendengarkan dosen, antara takjub dan takzim. Hehehehe.... Mereka lucu-lucu deh. Fiuh, aku jadi ingat saat-saat awal ketika aku menginjakkan kaki di kampus ini. Ketika aku datang dengan membawa pemikiranku yang lugu dan polos. Kira-kira 2 tahun yang lalu setelah aku menanggalkan seragam putih abu-abuku....
Aku melangkah centil memasuki kampus baruku. Di pikiranku sudah terlintas tampang-tampang cupu yang akan menjadi teman-teman baruku. Sudah pasti orang yang nggak kalah culun dari aku __tapi aku nggak seculun yang kalian kira loh.__ Mungkin aku akan bertemu cowok-cowok dengan rambut licin berminyak yang disisir belah pinggir, berkacamata tebel, kemeja kotak-kotak, celana kain dan sepatu bot? Loh? Ato cewek-cewek berbaju gombrong, yang kacamatanya nggak kalah tebel dari kacamata para cowok dan... aduh sudah.. sudah... Waduh dangkal sekali pikiranku ini. Dan ternyata aku benar-benar salah besar. Besar....rr sekali. Langkahku terhenti, aku terpaku di tempatku berdiri. Jauh dari perkiraanku. Hipotesisku melenceng jauhhhh.... Nggak ada yang seculun dugaanku, tepatnya nggak ada yang seculun diriku __kuingatkan aku mengatakan diriku culun hanya untuk membuat cerita ini mengenaskan, aku tidak culun.
“Fil! Fillia!!” untunglah teriakan Rita berhasil membunuh ketercenganganku. Rita sudah berdiri lima meter di sampingku. Ia menepuk bahuku dan mengajakku duduk di anak tangga.
“Gila luw! Lama banget datengnya. Gw pikir luw gak lulus. Dari tadi gw berdoa supaya bisa ketemu luw lagi di sini, dan doa gw baru aja terkabul. Thanks God.... bla bla bla....” Rita, cewek bondol ini [dulu kan Rita rambutnya bondol] kukenal sewaktu psikotes di UKI. Ih dia terlalu mendramatisir banget deh. Ah biarkan saja toh saat itu aku nggak sepenuhnya dengerin celotehannya yang masih berlanjut panjang lebar, karena aku masih tercengang melihat kenyataan yang ada di depan mataku. Sementara Rita asik mengoceh, aku mengamati satu-persatu mahluk yang lewat di depanku. Nggak ada yang sesuai perkiraanku. Kenyataan yang ada cowok-cowok di sini sebagian besar punya style masing-masing yang oke dan sepatu bot... tentu saja nggak ada, ini kan kampus bukan sawah! Kuperhatikan sekali lagi cewek-ceweknyapun nggak sesuai sama pikiranku. Semua cool dan bening. Mulai dari gaya rambut, baju, sepatu, semua..... gak ada yang sesuai sama apa yang selama ini kubayangkan. Aku menghela napas panjang... sia-sia saja aku membuat hipotesis selama ini. Baiklah.. baiklah..., aku akan menerima kenyataan ini....
Aku tertawa kecil waktu mengingat hal itu. Aku ingat betul, itu terjadi saat aku datang untuk mengikuti briefing osmaba. Hei, ngomongin osmaba aku jadi ingat masa-masa itu. Aku ingat saat aku dan teman-teman seangkatanku harus berbaris rapi di depan asrama kami setiap harinya tepat pukul 5 subuh. Lalu beriringan melangkah menuju kampus. Belum lagi ketika kami diminta menyanyikan lagu osmaba dengan gaya yang ribet banget. Bahkan ketika dosen membawakan sesi, aku dan beberapa teman lain tertidur. Ah iya! Waktu aku ketiduran, seorang senior datang lalu menanyakan ‘kamu sakit, dik?’ hahaha kujawab aja iya daripada diomelin gara-gara ketahuan tidur. Hehehe....
Yang paling menyedihkan, ketika jam makan siang tiba kami hanya diberi waktu singkat untuk menghabiskan bekal makan siang kami. Bahkan lucunya makanan kami diperiksa dulu sebelumnya, apakah sesuai dengan yang diperintahkan para senior atau tidak. Dan kalau tidak, kami harus menyanyikan lagu minta maaf yang nggak kalah ribet dari lagu osmaba kami. Weleh.... seru deh. Apalagi kalo lihat tampang judes para senior yang keliatan banget dibuat-buatnya. Belum lagi perintah mereka yang kocak-kocak waktu kami diharuskan mendapatkan tanda tangan mereka. Ada yang disuruh ngerayu pohon, cium lantai, naik ke gundukan pasir trus jejeritan, bayak deh yang aneh dan kocak-kocak. Hihi, yang paling memalukan adalah saat talent show di mana aku mencoba membacakan puisi dan disuruh turun dari panggung oleh para senior yang menonton. Gila saat itu gw tengsin abis! Ya, kalau ingat masa–masa itu aku senang. Pengalaman yang seru....
Rita menyenggol lenganku kencang. Seketika aku meringis kesakitan dan lamunanku buyar. Rita malah terkekeh pelan.
“Makanya jangan ngelamun, udah jam istirahat tau!” serunya.
Ups, sudah istirahat rupanya. Sayang sekali aku tidak terlalu memperhatikan dosen mengajar dan malah asik mengenang masa-masa awalku di kampus ini. Aku tersenyum lalu bangkit dari dudukku, “Yuk ke kantin!” ajakku dan ngeloyor ke pintu keluar. Rita melangkahkan kakinya seiring langkahku. Di benakku udah kebayang mie rebus buatan mbak Cassy [dasar wong Indonesia, makanannya mie melulu!] Aku dan Rita melangkah masuk ke dalam lift yang penuh sesak mirip kereta Jakarta-Bogor pas pulang kantor.
“Fil, luw merasa ada yang kurang nggak sih?” Tanya Rita sewaktu lift mulai bergerak turun.
Aku mengernyitkan kening. Memang betul yang Rita bilang, rasanya ada yang kurang, “Apa ya...” Kami berfikir keras.
“Ya ampun, Ophie mana!” Jerit kami barengan waktu sadar telah meninggalkan Ophie seorang diri di kelas. Spontan semua mahluk dalam lift menatap kami kesel, karena kami sukses membuat mereka kaget.
Sementara itu, Ophie yang rupanya telah lama tertidur mulai mengerjapkan matanya, memandang sekitar.. sunyi, sepi, ia pun menggaruk kepalanya lalu berkata “aku di mana?”
Tamat

0 comments