Blessed Friend


Aku menghentakan kakiku jengkel. Vian dan Tendy cuma geleng-geleng kepala melihat tingkahku. Sesekali mereka mengelus punggungku, mencoba menenangkanku.

“Ya ampun..... Je, gitu aja luw ringsek. Lemah banget jadi cewek,” ujar Vian udah mulai bosan lihat tingkahku. Aku manyun, Tendy memelukku erat-erat __woy mbak, gw sesek napas nih kalo’ di bekep kayak gini.
“Ya udah, Je... luw jangan sedih kan masih ada kita.... Kita bantu deh, ya kan Vi?” Tendy masih mencoba menenangkanku. Vian diam, gak ngerespon. “Vian,” Tendy melotot ke arah Vian, meminta respon darinya.
“Ah eluw, Ten. Bantu sih bantu, masalahnya luw bisa bantu dia?! Kalo’ gwe sih angkat tangan!!” balas Vian ketus.
Hua!! Rasanya tambah nyesek aja denger kata-kata Vian barusan, walaupun aku sendiri tahu mereka nggak bisa bantu aku. Tapi yang aku perlu saat ini kan dukungan dari mereka! “Tendy...,” rengekku minta pembelaan. Tendy si tomboy berkacamata itu mendekapku semakin erat,
“Udah, Je.... Jangan dengerin Vian.” Tendy menatap jutek ke Vian lalu membawaku pergi dari hadapannya. Tinggallah Vian yang mencibiri Tendy dari belakang.

♪ ♫ ♪ ♫

“Emang apa yang nggak ngerti?” tanya Tiu waktu aku merengek minta bantuannya.
“Semua....” aku pasang tampang bloon.
“Semua? Jadi aku harus ngajarin dari awal?”
Aku ngangguk-ngangguk. Tiu langsung manyun. Dia menatapku, entah apa yang dipikirkannya. Mungkin yang dia pikirkan aku ini cewek paling bloon dan merepotkan. Ah perduli amat! Yang penting aku bisa ngerjain ujian besok.
“Tiu... luw kan janji mau ngajarin gw.....” rengekku rada maksa.
“Iya, nanti ya pulang kuliah....”
Aku tersenyum. Cowok Batak itu ketawa garing.
“Thanks ya, Tiu!” jeritku dan berlalu.

♪ ♫ ♪ ♫

Tiu melirik jam di pergelangan tangannya, lalu mendecak kesal. Dia menungguku di pintu keluar sedangkan aku masih asik ketawa-ketiwi bareng Vian dan Tendy di ruang kelas.
“Je, jadi nggak?!” teriak Tiu nggak sabar.
Aku menengok ke arahnya dan tersadar ada satu mahluk yang sedari tadi menungguku di depan pintu. Aku buru-buru mengakhiri canda-tawaku dan undur diri.
“Bener dia mau ngajarin luw?” tanya Tendy mastiin.
Aku ngangguk.
“Duluan ya...”
Aku berlari menghampiri si pendek Tiu.

♪ ♫ ♪ ♫



Aku membuka buku musikku dan mencomot sebatang pena dari dalam kotak pinsilku. Tiu duduk di sampingku dan memperhatikan setiap gerakku. Kemudian aku mengeluarkan sekantong permen dari dalam tasku, meletakkannya di samping tempat pinsil kuningku. Lalu mataku mendapati sebuah sisir didalam kotak pinsilku yang terbuka, ku pikir menyisir sebentar tak apa, aku pun mulai menyisir. Tunggu, aku butuh cermin. Aku kembali merogoh tasku dan tak lama aku mulai bercermin.
“Ehem.....” Tiu mendehem kecil di sampingku.
Aku hanya tersenyum dan tetap asik menyisir.
“Bisa dimulai?” tanyanya.
Aku mengangguk dan memasukkan sisir serta cermin ke dalam tasku. Tiu ganti tersenyum.
“Kita mulai dari......” Tiu memutus perkataannya sewaktu melihatku meneguk sebotol minuman dingin kesukaanku.
“Kapan mau mulai!!!!” jeritnya murka.
Aku pun tersadar telah membuang waktu. Aku kembali duduk manis. Tiu mendesah lega dan kembali menjelaskan.

♪ ♫ ♪ ♫




Hai, namaku Jea, lengkapnya Jeandiar Chiba. Teman-temanku biasa memanggilku Je. Aku mahasiswa fakultas seni musik, semester dua. Sebenarnya aku ini sangat benci melihat deretan not balok yang hanya membuat kepalaku pusing. Mungkin orang selalu bertanya kenapa aku mengambil jurusan ini kalau memanhg tidak menyukainya? Jawabannya sederhana karena aku seorang pemusik. Nah bingungkan? Baiklah akan aku jelaskan. Mungkin aku satu di antara banyak orang yang terlahir memiliki bakat bermusik. Yah, sejak kecil aku pandai bermain alat musik dan tentunmya itu kudapat secara otodidak. Maklumlah ayahku seorang pianis dan ibuku seorang violis itulah sebanya aku dilahirkan dengan bakat musik seperti ini. Sayangnya sampai aku duduk di bangku kuliah, seperti saat ini, aku tidak pernah bisa membaca not balok dan tidak pernah tahu tentang teori dasar bermusik. Yang aku tahu hanya bagaimana bermain gitar, piano dan biola. Hm.... aku hanya bisa menggunakan feeling.
Nah, hal itu sudah menjadi rahasia umum. Semua orang tahu betapa butanya aku terhadap teori bermusik. Seringkali aku menangis hanya karena merasa begitu payah dan nggak bisa berbuat apa-apa. Seperti saat ini, satu hari sebelum ujian Teori Musik Dasar, aku nggak mengerti satupun apa yang sudah diajarkan dosen-dosenku. Untungnya aku punya seorang sahabat yang pandai dalam bidang ini, Tiu. Yah mungkin sudah takdir aku bertemu dengannya di awal orientasi mahasiswa waktu itu. Cowok berkacamata itu memang sudah menjadi salah satu sahabatku sejak kami berkenalan di orientasi mahasiswa setengah tahun lalu. Saat ini dia duduk di sampingku dan dengan sabar menerangkan materi demi materi yang akan diujikan besok.
“Je, ngerti?”
Tiu menaikkan kacamata biru metaliknya yang merosot, dengan ujung jari tengahnya. Aku tersenyum cengo lalu menggeleng. Dia kembali mendesah. Ini sudah kelima kalinya dia menerangkan materi yang itu-itu saja, wajar kalau dia merasa bosan.
“Di mana yang nggak ngerti, Je?” tanyanya dengan sabar.
Aku diam, karena aku sendiri nggak ngerti di mana letak ketidakmengertianku. Tiu meanatapku kebingungan. Untungnya dia sudah mengenalku cukup lama dan dia mau mengerti aku. Tiu pun kembali membalik lembar demi lembar buku musik di hadapan kami.
“Kita ulang dari awal ya....” ujarnya sedikit memberi ketenangan, seakan tahu kegelisahan di hatiku. Yah, aku sudah mulai resah. Segala perasaan bercampur aduk menjadi emosi yang terpendam. Perasaan takut menghadapi ujian besok, perasaan takut merepotkan Tiu yang sudah berbaik hati mengajariku, perasaan takut dianggap sebagai mahluk paling bodoh dan perasaan-perasaan lain yang menyatu menjadi kegelisahan. Tanpa sadar air mata mengalir jatuh membasahi buku musikku. Aku pun buru-buru menyekanya. Tiu menatapku keheranan. Ia menenangkanku dengan senyumnya.
“Tenang aja, Je. Kalau masih nggak ngerti aku nggak akan pulang. Aku ajarin sampai Je ngerti....”
Aku terkekeh mendengarnya bicara seserius itu. Aku benar-benar berterima kasih sama mahluk di depanku ini. Kuhapus air mataku dan tersenyum tipis.
“Makasih ya, Tiu.”
Tiu balas tersenyum.
“Oke, kita mulai lagi dari awal ya....”

♪ ♫ ♪ ♫

“Hari ini luw siap ujian?” tanya Tendy. Vian menepuk pundakku, “Gw yakin luw bisa, Je!” ujarnya yakin. Aku tersenyum nggak kalah yakin darinya.
“Oke good luck ya! Sorry kita berdu pulang duluan!” seru Vian lagi.
“Kalian nggak ada kuliah?” tanyaku.
“Dosennya nggak ada” jawab Tendy.
Aku memang nggak satu fakultas sama dua mahluk manis di depanku, itulah sebabnya mereka berdua nggak bisa bantu aku. Lha wong mereka sama butanya sama aku dalam hal teori musik. Yang mereka tahu hanya bagaimana menghitung dan mengkalkulasikan deretan angka yang bagiku sama pusingnya dengan membaca not balok. Mereka berdua calon-calon akuntan yang handal, mungkin. Hehehe.....
“Ya udah besok kita ketemu di tempat biasa ya” jeritku sambil berlari masuk ke ruang kelas.

♪ ♫ ♪ ♫

Soal dan lembar jawaban mulai dibagikan. Aku meringis waktu melihat jejeran soal yang membuatku mumet. Tiu yang duduk di depanku menoleh ke belakang. Ia tersenyum.
“Tenang ya, kamu pasti bisa!” ujarnya menguatkanku.
Aku tersenyum.
“Iya Je pasti bisa!” balasku meyakinkan dirinya dan diriku sendiri.
Tiu menjulurkan lidahnya dan kembali ke posisi duduk manisnya. Ia pun berkutat dengan soal-soal ujian itu. Aku memperhatikannya sejenak. Aku merasa beruntung bisa mengenalnya. Thank ya Tiu, aku nggak akan ngecewain dia yang udah capek-capek ngajarin aku. Aku pun mencoba menenangkan diri dan tenggelam dalam soal-soal ujian itu.

♪ ♫ ♪ ♫

Tiu menoleh ke arahku.
“Udah belum?” bisiknya. Aku mengangguk. Kami pun melangkah beriringan menuju meja dosen. Akhirnya aku bisa menyelesaikan ujian hari ini.

“Bisa kan!”
Bagiku perkataan Tiu barusan bukanlah sebuah pertanyaan melainkan sebuah pujian. Hehehe... Aku tersenyum haru. Entahlah apa jadinya kalau Tiu tidak pernah mengajariku. Mungkin aku hanya bisa memandangi soal-soal tadi sambil mewek.
"Makasih ya, Tiu”

♪ ♫ ♪ ♫

Aku melangkah riang menghampiri Vian dan Tendy yang udah menunggu di basecamp kami.
“Tendy...Vian....!” jeritku sampai mereka berdua celingak-celinguk mencariku.
“Hei, gimana ujian luw. Nilainya dah keluar?” tanya Vian begitu aku sampai di tempat mereka duduk. Aku tersenyum, mereka berdua memelukku. Mereka tahu maksud senyumku.
“Selamat ya, Je. Luw dapet berapa?” ujar Tendy masih sambil memelukku.
Aku buru-buru menunjukkan lembar ujianku yang di sudut kanan atasnya terpampang angka 88 warna merah.
“Tuh kan. Luw pasti bisa!” jerit Vian sambil ngeberantakin rambut panjangku. Tendy ikut mencubiti lenganku. Kami bertiga terkekeh.
“Je...” suara datar Tiu mengejutkanku. Aku menoleh dan mendapati Tiu udah berdiri di belakangku. Aku buru-buru melempar senyum padanya dan,
“Tiu...., thank ya!!!” jeritku dan memeluknya.
Inilah sahabat-sahabatku. Mungkin kalian juga memiliki sahabat seperti mereka. Seperti Vian dan Nay’ yang dalam satu hal tidak dapat membantu kita bahkan seakan acuh seperti Vian, namun bukan berarti mereka tidak peduli pada kita. Ataupun seperti Tiu, yang dengan kesabaran senantiasa membantu kita. Seperti apapun mereka satu hal yang perlu diingat, mereka pun sama seperti kita, memiliki kelemahan.
Tidak selamanya seorang sahabat dapat membantu kita menyeleswaikan persoalan yang kita hadapi, tapi percayalah seorang sahabat akan senantiasa membuatmu semakin kuat.. Cintai dan sayangilah mereka. Ini untuk semua orang yang menghargai sebuah persahabatan.

________________________________

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu
dan menjadi seorang saudara dalam tiap kesukaran”
[Amsal 17:17]

0 comments