Maaf Bunganya Belum Mekar

Rega sedikit risau dengan semua keadaannya saat ini. Terlalu memuakkan memang. Sekali lagi ia memutar posisi duduknya. Rega terus menatapi dirinya di depan cermin besar di kamarnya. Jelas terlihat mata sayunya yang menunjukkan ia habis menangis semalam. Gak ada yang bisa menolongnya. Gak ada yang bisa mengeluarkannya dari kepiluan seorang gadis cacat sepertinya.

“Ga, obatnya udah diminum?” Tanya Tius sambil mendorongnya masuk ke dapur. Rega diam. Suara putaran kursi rodanya yang sudah lama diabaikan terdengar berderit menyakitkan, sama dengan keadaan hatinya saat ini. Tius berhenti, memutar kursi roda Rega lalu sedikit berjongkok. “Rega kenapa? Kok diam?” Tanyanya lagi sambil menatap dalam bola mata Rega menyelidik. Rega tetap bisu. Tius mendesah. Menyibak rambut Rega yang berusaha menyembunyikan keresahan dirinya. Tius belum bisa berkata-kata. Ia masih menyelidiki penyebab keresahan Rega. Tapi Rega yang lemah nggak mampu menyembunyikan semua itu darinya. Rega menangis dan Tius mulai mengerti. Semua yang meresahkan Rega, semua penderitaan yang Rega alami bukan rahasia lagi baginya. Tius tau semuanya. Karena dialah satu-satunya orang yang mengerti Rega.

“Ga, apa semua ini karena keberadaan kamu yang....”
“Udah Tius! Ga ada apa-apa kok!” Rega masih bersikeras untuk bungkam. Tapi Tius cukup mengerti akan semua itu. Dan Rega tidak cukup pandai untuk menyembunyikan apapun dari Tius.
“Kamu nggak beda dari siapapun, Ga. Jangan merasa hina karena keadaan kamu saat ini“ Tius tersenyum tipis.

“Jangan sok tau deh! Kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain kan? Duduk di kursi roda dan nggak ada yang peduli sama aku! Jangan kan peduli nganggepa aku ada aja nggak!” Balas Rega ketus.
“Aku emang nggak ngalamin apa yang kamu alami saat ini, tapi aku bisa rasain beban kamu! Dan aku peduli sama kamu, karena itu aku di sini.... Ga, semua ada waktunya. Jangan berhenti untuk berharap. Tuhan pasti dengar doa kamu, karena Dia sayang sama kamu. Suatu saat kamu pasti sembuh. Semuanya udah Tuhan rencanain kok, Ga. ” Ujar Tius masih diiringi senyuman dan itu sangat menguatkan Rega.
“Kalo’ Tuhan sayang sama aku, kenapa Dia izinin aku ngalamin hal ini? Kenapa aku harus kehilangan kedua kakiku?” Masih dengan sedikit tersirat keraguan, Rega berusaha mencari jawaban.

“Rega, Tuhan itu baik. Mungkin Dia izinin kamu ngalamin semua ini untuk menunjukkan kasihNya ke kamu dan semua. Tuhan sayang banget sama kamu, karena itu Dia cuma izinin kamu kehilangan kedua kaki kamu, dan bukan nyawa.... Kamu ingat kejadiannya waktu itu? Kamu koma sampai berbulan-bulan, dan kalau bukan karena kasih Allah, mungkin Rega nggak akan selamat. Tuhan ingin kamu tetap hidup dan menjadi saksi bahwa Tuhan berkuasa....”

Kali ini Rega tersenyum walau sedikit haru. Haru karena kasih setia Tuhan yang tak ia sadari keberadaannya. Ia merasa sangat bahagia.

“Kenapa kamu mau temani aku? Bukannya masih banyak cewek lain yang bisa kamu ajak jalan tanpa harus dengan kursi roda seperti aku ini?” Tanya Rega. Ia menundukkan wajah keraguannya. Tius tetap tersenyum, manis sekali. Semua di iring dari hatinya yang tulus.

“Ga, banyak bunga yang ada, tapi yang menurutku paling manis cuma kamu. Mungkin kamu nggak sesempurna bunga-bunga lainnya tapi di sisi lain aku suka pribadi kamu yang melebihi bunga-bunga lain. Aku suka kamu. Cuma kamu! Karena itu jangan sedih lagi....”

Rega nggak mampu lagi untuk menahan air mata harunya. Ia sadar masih ada yang mencintainya tulus. Terlebih lagi Yesus yang nggak pernah ninggalin dia.

“Tius, makasih karna kamu mau peduli sama bunga kecil ini. Tapi maaf karna saat ini bunganya belum mekar....” Bisik Rega diselingi isak harunya.
“Aku siap nunggu sampai bunga itu mekar dan menjadi bunga terindah di musimnya.....”

Perpaduan yang indah..... sekali.
Kecelakaan 2 tahun yang lalu yang membuat Rega kehilangan ke-2 kakinya justru membawanya pada cinta sejati yang tak kan pernah mati. Dan ia kembali mancari jati diri dalam kebenaran kasih abadi yang hanya ia dapatkan di dalam Yesus.

“Apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti Satu hal tanamkan di hati indah semua yang Tuhan bri Tuhanku tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti Cobaan yang engkau alami tak melebihi kekuatanmu.... Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia Saatnya kan tiba nanti kau lihat pelangi kasihNya....”

Bunga kecil yang lemah dan putus asa, kini bersemi dengan hati yang penuh sukacita. Perlahan mekar... harum... cantik... dalam taman surga.End.

0 comments