![]() |
| Photo by Burak Başgöze |
Jam kantor nyaris usai. Je sudah tak sabar ingin pulang. Bukan karena ia jenuh dengan pekerjaannya sebagai seorang editor di sebuah penerbit swasta. Bukan pula karena ia rindu rumahnya atau demi mengejar sinetron. Ih nggak banget. Jelas Je bukan pecandu sinetron. Ia bahkan kurang tertarik dengan layar datar ukuran 32 inch yang bertengger di kamarnya. Sesekali saja ia menyalakan teknologi layar datar itu jika ingin mendengar berita, selebihnya dibiarkannya si kotak itu yang menontonnya melakukan aktivitas. Je lebih banyak menghabiskan waktunya berdua dengan James -layar kotak 11,5 inch beserta keyboardnya- demi pekerjaan.
Je tak sabar ingin pulang. Ia begitu bersemangat karena hari ini hari Rabu.
Tepat pukul 17.00, Je bergegas merapikan barang-barangnya. Komputer jinjing putih yang dipanggilnya James, ponsel hitam mungilnya yang genap 5 tahun telah menjadi satu-satunya alat komunikasi miliknya, agenda bergambar cangkir kopi di sampulnya dan kamera saku murahan yang dibelinya di online shop. Kini semuanya rapi di dalam tas jinjing brown kesayangannya. Je begitu bersemangat. Ia melenggang keluar dari ruangannya, bersenandung kecil sambil sesekali menyapa kawan-kawannya. I’m excited! Mungkin seperti itu jika saja hati Je bisa bersuara.
Je menunggu angkot. Ia sengaja tidak memilih taksi seperti hari-hari biasanya. Senyum di bibirnya tetap menghiasi parasnya yang kata orang manis, walau Je sendiri tak pernah setuju dengan anggapan mereka, baginya ia sexy. Tak lama angkot yang dinanti tiba.
Setengah perjalanan dari jarak kantor dan rumahnya, Je berseru nyaring meminta sang supir memberhentikan angkotnya. Tepat di sebuah perempatan lampu merah, di bawah kolong fly over. Tentu saja bukan ini rumah Je. Je cukup berada dan tidak pernah bermasalah dalam hal keuangan. Di usianya yang telah 27 tahun, tepat dua bulan lalu, Je tergolong editor yang sukses. Gaji tetapnya tentu tidak kecil karena ia bekerja di penerbitan swasta ternama. Belum lagi honorarium yang sering diperolehnya dari menulis artikel di media masa serta sallary dolar yang mengalir ke rekeningnya tiap kali Je kebagian proyek ghost writter. Je sangat mapan. Tinggal di kolong jembatan jelas bukan pilihan Je.
Je mengedarkan pandangan sejenak ke sekitar. Ia mencari seseorang. Tak lama senyumnya makin mengembang. Deretan giginya yang terangkai cantik berkat teknologi bernama behel membuatnya makin terlihat manis, atau menurutnya sexy. Matanya menangkap sosok yang dari tadi dicarinya. Ada di seberang jalan. Seorang pria, mungkin seumuran dengannya, tampak sibuk menorehkan warna-warni di dinding jembatan. Je kembali mengayunkan langkahnya, menghampiri pria itu.
“Hai,” sapa Je singkat. Pria itu tak acuh. Ia mencelupkan kuas ke dalam kaleng cat biru muda, lalu kembali mewarnai dinding jembatan. Je berdiri tepat di sampingnya, memandangi dinding itu dengan terpukau. Ini alasan Je begitu bersemangat usai jam kantor. Setiap Rabu Je pasti singgah ke tempat ini, menjumpai si pelukis yang selalu asik dengan kuas dan warna. Entah mengapa si pelukis selalu tak meyadari kehadiran Je di sana, meskipun telah kali ketiga Je singgah.
Si pelukis tampak begitu tenggelam dalam imajinasi penuh warna dan rupa. Mungkin ia tak lagi peka dengan lingkungan sekitarnya. Itulah seni, bukan. Kadang keindahannya membuat kita begitu asik masyuk dan lupa realitas kita. Dunia ide memang terkadang menyeret kita keluar dari realita dan membuat kita sibuk dengan imajinasi dan diri sendiri.
Hari ini tidak ada yang berbeda dengan si pelukis. Ia tak menyadari kehadiran Je. Kira-kira lima belas menit sudah Je berdiri tepat di sampingnya. Mengamati warna-warni di dinding itu. Sebuah grafiti. Karya pria pelukis itu. Kalau saja dihitung, mungkin telah menit kelima belas dan detik keempat puluh lima, pria itu akhirnya menyadari kehadiran Je di sampingnya. Dipandanginya Jefa sejenak. Tampaknya ia menangkap binar di mata Je yang gamblang memperlihatkan kekaguman Je pada karyanya. Pria itu mendadak tersipu dengan sendirinya.
“Hei, sudah lama berdiri di situ?” tanyanya sambil tersenyum. Je yang tidak sadar dipandangi menoleh ke arahnya.
“Hm, lumayan. Sekitar lima belas menit mungkin.” Jawabnya balas tersenyum.
Pria itu usai dengan lukisannya. Seakan-akan ia telah kembali ke bumi setelah tadi terbang dalam dunia imaji. Ia mendarat lagi di bumi, menyadari sekitarnya. Akhirnya. “Aku hampir selesai. Setelah ini aku traktir makan malam?” lanjut si pria sambil menutup rapat beberapa kaleng catnya. Je terkejut. ‘Makan malam? Waduh..harus jawab apa aku? Apa sebesar itu keberanianku mengiyakan ajakan pria yang baru kutemui?’ terjadi pergumulan singkat dalam diri Je. Je memang baru tiga kali mampir ke tempat itu. Si pria itu sendiri mungkin tidak pernah menyadari kehadirannya sampai hari ini. Lalu apakah Je punya nyali untuk makan malam dengannya? Bagaimana kalau dia punya niat jahat?
“Okay selesai. Lalu bagaimana?” seru si pria yang usai merapikan semua peralatan lukisnya. Masih dengan linglung Je memperhatikan si pria, penuh selidik.
“I’m not a bad guy. I offer you friendship. Tapi kalau keberatan makan malam, it’s okay. Mungkin kita bisa hanya duduk di sini lalu ngobrol. Itu pun kalo nggak keberatan kita duduk di kolong jembatan.”
Seolah tahu yang Je pikirkan, pria itu menawarkan opsi lain. Tampaknya pria ini memang orang baik. Tapi mungkin belum saatnya bagi mereka untuk makan malam bersama. Begitulah pikir Je. Dia memilih duduk di kolong jembatan, bercakap-cakap dengan si pria sembari sesekali terusik dengan deru kendaraan yang melaju di sekitarnya.
“Apa yang membuatmu ke tempat ini? Grafiti ini atau aku?” tajam pertanyaan si pria nyaris membuat Je tersedak. “Ooo...jelas grafiti yang kamu buat. Hahaha...” Sedikit kikuk Je jadinya. Si pria terkekeh. Pria itu memandangi sejenak hasil karyanya di dinding jembatan itu. “Kamu suka?” lanjutnya.
“Sorry, say it again?” Je balas bertanya. Buatnya pertanyaan itu ambigu, itulah kenapa ia perlu memastikannya lagi. Si pria mengalihkan pandangannya kembali ke Jefa “Apa kamu suka karyaku?”
“Ya! Suka sekali. Aku pikir kamu berbakat!!”
Pria itu tak berkata. Ia mengetuk-ngetuk kaleng cat di dekatnya. “Ah, aku tidak tahu aku menyukai ini atau tidak...” ujarnya kembali menatap dinding jembatan yang telah disulapnya menjadi indah.
“Kok gitu. Karyamu bagus kok...”
“Ah sudahlah kamu tidak akan mengerti.” Lirih suara si pria membuat suasana hati Je ikut sendu. Si pria sendiri tampak murung. Matanya seolah memandang angin hampa, entah ada di mana pikirannya saat itu. Ah, mungkin dia terbang lagi entah kemana...
“Anyway, sudah berapa kali kamu ke sini?” tanya si pria dengan seru nyaringnya. Senyum kembali menghiasi wajahnya yang good looking. Entah dia mencoba mengalihkan pembicaraan atau menutupi perasaannya, yang jelas cepat sekali emosinya berubah. Jefa sendiri kikuk menghadapi situasi itu. Belum lama ia hanyut dalam suasana sendu yang pria itu ciptakan, namun kini ia berubah lagi. Tapi Je berusaha menyematkan senyum di bibirnya. “Sudah tiga kali. Hari ini yang ketiga kalinya.” Jawab Je.
“Aku Ryan.” Si pria mengulurkan tangannya. Tanda perkenalan yang umum. Je menyambut uluran tangannya, “Jefa. Panggil Je saja.” Balas Je mantap menyambut uluran tangan pria bernama Ryan itu.
*****
Jefa duduk di belakang meja kerjanya. Jam kantor sudah di mulai, rekan sekerjanya sudah terlihat sibuk di balik layar komputernya masing-masing, tapi Jefa duduk bersandar di kursinya, menyilangkan kedua kakinya. Sambil tersipu mengenang perkenalannya dengan Ryan, Je memutar bangkunya ke kanan dan kiri. Sesekali sosok Ryan yang tengah melukis mampir di benaknya dan membuatnya tanpa sadar tersenyum. Seolah sedang di awan-awan, Je asik dengan kenangan dan khayalannya tentang Ryan. Pikirnya, mungkin menyenangkan punya pacar seorang pelukis grafiti.
Lamunannya terinterupsi dengan kehadiran Ibu Diana, rekan kerja Je yang tampaknya jengah memperhatikan kelakuan Je yang hanya duduk melamun. “Bah, ada bos baru rupanya di kantor ini!” Logat Bataknya yang kental berhasil membuat seluruh karyawan di ruangan itu menoleh. Maka kini semua mata tertuju pada Je.
“Kau dari rumah ke mari mau kerja atau mau bikin rusak itu kursi? Kau putar-putar terus macam komidi putar saja.” Je no comment.
“ Kalo kau mau main, pergi kau ke Taman Kanak-kanak, banyak itu mainan yang bisa kau putar-putar.” Merasa tidak digubris, Ibu Diana melanjutkan kalimatnya. Ibu Diana memang senior di kantor Je. Je bukan orang pertama yang dinasihati seperti itu. Tapi bagaimanapun, Je sangat mengagumi sosok Ibu Diana. Je buru-buru bangkit dari duduknya, merangkul pundak Ibu Diana dan balas berceloteh,
“Mamak, aku ini lagi jatuh cinta...minta dulu petuahmu, Mak.” Ujar Je meniru logat batak khas Ibu Diana. Ibu Diana tersenyum,
“Nah, ini yang Mamak suka...kau memang tahu siapa ahlinya. Dulu, waktu Mamak seumur kau, Mamak ini banyak fansnya. Si Panjaitan, Butar-butar, Simamora, Tobing, siapa lagi ya...Harahap...ya ada juga itu dari kampung sebelah...” belum selesai Ibu Diana bernostalgia dengan deretan nama itu, Je sudah kembali ke kursinya, menyibukkan diri dengan James. “Eh, sini dulu kau, belum selesai aku ini cerita...”.
******
“Hari ini tidak melukis?” tanya Je mencoba mendapatkan jawaban. Ryan bungkam. Je duduk tepat di sisi Ryan, bersandar pada dinding jembatan dan ikut terdiam. Je hanya tidak yakin harus melakukan apa. Mereka berdua diam. Deru kendaraan yang lalu lalang sama sekali tak mampu mengusik kesunyian dalam diri keduanya. Je tiba-tiba saja teringat permainan klasik yang didapatnya dari teman Amerikanya.
“Ryan, what is this...” tanya Je setelah meletakkan telapak tangan kanannya di atas telapak tangan kirinya lalu menggoyangkan kedua ibu jarinya. Rupanya itu berhasil. Dahi Ryan mengernyit, bukti bahwa ia tertarik dan memikirkan permainan itu.
“Boat?”
“Nope!”
Ryan kembali berpikir.
“Orang berenang?” lanjut Ryan lagi tampak ragu.
“Hahahahaha, apa kamu berenang terlihat seperti ini?”
“Hehehe, oke aku nyerah.”
“Awkward turtle” jawab Je sambil memperagakannya sekali lagi. Ryan tak merespon, tak paham. “Kura-kura aneh..” bisik Je berharap kali ini Ryan mengerti. Ryan mengangguk.
“Oke kalo ini apa..” lanjut Je. Kali ini dia merapatkan kedua punggung lenganya lalu menyilangkan pergelangan tangannya. Tampak seperti pohon. Ryan memerhatikannya dan kembali berpikir. Tampak seperti pohon tapi ia tak yakin lalu menggeleng.
“Akward palm” bisik Je seakan hanya mereka berdua yang boleh tahu jawabannya. Ryan lagi-lagi tak paham. “Palem aneh...” lanjut Je lagi. Kali ini Ryan terkekeh. “Benar-benar aneh.” Ujarnya. Lalu tak acuh. Agaknya permainan ‘aneh’ Je tidak terlalu berhasil mendapatkan perhatian Ryan. Je putus asa. Memilih bersandar pada dinding jembatan dan diam. Sama saja seperti Ryan.
Sementara sunyi melanda keduanya ditengah keramaian jalan, Jefa memutar otaknya. Mencoba memahami apa yang tengah terjadi dengan Ryan. Jefa tak mampu memahaminya. Terasa ada yang berbeda dari diri Ryan. Memang Je masih sangat baru mengenalnya, tapi ada yang janggal.
Je menoleh ke arah Ryan. Ditatapnya dalam-dalam wajah Ryan yang tak berekspresi. Ia terbang lagi, entah kali ini ke mana. Bola mata Je masih terarah pada sosok Ryan, sementara batinnya bergumam sendiri ‘Siapa pria ini sebenarnya?’
... bersambung ...

0 comments